Wednesday, December 6, 2017

MESKI INFLASI NOVEMBER TERKENDALI, WASPADAI KENAIKAN HARGA PANGAN DAN ANGKUTAN

Waspadai Kenaikan Harga Pangan Meski Inflasi Terkendali

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan November 2017 di Provinsi Lampung tercatat sebesar 0,19% (mtm) dan secara tahunan sebesar 3,21% (yoy). Tekanan inflasi bulanan tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi di Sumatera dan nasional yang tercatat masing-masing sebesar 0,35% (mtm) dan 0,20% (mtm), serta lebih rendah dibandingkan pola historisnya dalam 3 tahun terakhir dengan rata-rata 0,52% (mtm).

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung mengatakan
tekanan inflasi November 2017 terutama bersumber dari kenaikan harga kelompok pangan (volatile food) karena kenaikan harga komoditas pangan utama seperti bawang merah, cabai merah dan beras serta kelompok harga yang ditetapkan pemerintah (administered prices) karena kenaikan harga rokok.

 Dibandingkan Provinsi se-Sumatera, inflasi di Provinsi Lampung  menempati posisi yang cukup baik dengan berada di urutan ke-7 dari total 10 Provinsi. Secara spasial, dibandingkan kota-kota yang menjadi sampel inflasi di Sumatera dan secara Nasional, inflasi Kota Bandar Lampung dan Kota Metro masing – masing menempati urutan ke-44 dan 62, lebih baik dibandingkan posisi bulan sebelumnya. Secara kumulatif sejak awal tahun 2017, inflasi IHK Lampung tercatat masih terjaga di level yang cukup rendah yakni sebesar 2,57% (ytd), atau masih di bawah tingkat inflasi nasional sebesar 2,87% (ytd) sehingga diperkirakan dapat mendukung pencapaian sasaran inflasi tahun 2017 sebesar 4±1%.

Tekanan inflasi pada kelompok pangan (volatile food) tercatat sebesar 0,71% (mtm) atau meningkat jika dibandingkan bulan sebelumnya yaitu sebesar 0,46% (mtm).

"Tingginya tekanan inflasi dipicu oleh kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan yakni bawang merah, cabai merah, dan beras, yang utamanya dipengaruhi oleh faktor cuaca yang kurang kondusif. Selain itu, tekanan harga pangan bulan ini juga dipengaruhi oleh pergeseran harga beras medium ke premium sebagai konsekuensi dari penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET). Harga beras medium di penggilingan mengalami kenaikan sebesar 2,08% (mtm) untuk menyesuaikan harga beras premium, "kata dia dalam siaran pers yang diterima Lampung Post, Rabu (6/12).

 Sementara itu, kenaikan harga rokok dan bahan bakar rumah tangga mendorong inflasi administered prices yang mencapai 0,19% (mtm). Peningkatan harga pada rokok terjadi seiring dengan rencana kenaikan tarif cukai rokok di Januari 2018 sebesar rata – rata tertimbang 10,54%. Peningkatan juga terjadi pada Bahan Bakar Rumah Tangga seiring dengan keterbatasan pasokan serta adanya pengaruh kenaikan harga elpiji di pasar dunia. Namun demikian, tekanan inflasi yang lebih tinggi di kelompok administered prices dapat diredam oleh penurunan tarif angkutan udara di bulan November 2017 seiring dengan pelemahan permintaan yang terjadi pasca beberapa event besar di Lampung pada bulan Oktober 2017. Pada kelompok inti, justru mengalami deflasi sebesar -0,03% (mtm), sedangkan pada bulan sebelumnya tercatat inflasi 0,02% (mtm). Melemahnya tekanan inflasi kelompok inti tersebut didorong oleh koreksi harga yang terjadi pada gula pasir yang menyumbang sebesar -0,01%.

Mencermati perkembangan inflasi sampai dengan saat ini, KPw Bank Indonesia Provinsi Lampung memandang tingkat inflasi Provinsi Lampung telah mengarah pada kisaran sasaran inflasinya.

" Meskipun demikian, untuk tetap menjaga momentum tingkat inflasi yang rendah sebagaimana tahun sebelumnya, KPW Bank Indonesia Provinsi Lampung memandang tetap perlu mewaspadai meningkatnya risiko tekanan inflasi yang bersumber dari gejolak harga kelompok komoditas pangan (volatile food) dan administered proses, "paparnya.

 Pertama, masuknya musim penghujan dan cuaca yang kurang kondusif (Siklon Tropis Dahlia) berpotensi mempengaruhi pasokan komoditas akibat kerentanan produksi dan OPT dan gangguan distribusi. Kedua, mulai meningkatnya harga minyak dunia akan memperbesar peluang kenaikan BBM yang berdampak lanjutan pada tarif angkutan umum maupun angkutan barang. Ketiga, risiko meningkatnya harga beras akibat belum lancarnya penerapan HET beras khususnya kualitas medium dan premium. Keempat, potensi peningkatan permintaan pada akhir tahun, terutama angkutan.
Mengingat masih terdapat beberapa risiko yang dapat menyebabkan gejolak harga dan mendorong kenaikan harga lebih tinggi, TPID bersama dengan Satgas Pangan perlu melanjutkan upaya stabilisasi harga di Provinsi Lampung yang antara lain ditempuh melalui: Pertama, menjaga ketersediaan pasokan bahan kebutuhan pokok dalam jumlah yang memadai dan harga yang terjangkau serta upaya menjaga kelancaran distribusi pasokan komoditas (a.l. cabai, bawang, ikan tangkap, dll) dari dampak gangguan cuaca maupun bencana alam yang dapat terjadi. Kedua, merumuskan tarif angkutan secara bijak serta memantau implementasinya. Ketiga, menunjuk Badan/Lembaga untuk mengawasi kualitas dan peredaran beras premium dan medium serta sosialisasi penerapan HET kepada masyarakat, Keempat, mendorong masyarakat untuk merencanakan liburan akhir tahun dengan lebih baik antara lain dengan pemesanan tiket angkutan lebih awal, sehingga dapat mengurangi  lonjakan permintaan di akhir tahun.(AJI)

0 komentar:

Post a Comment