Sunday, September 17, 2017

Pengerajin Rotan Butuh Dukungan Permodalan dari Pemerintah Daerah


Fahrozi merintis usaha kerajinan rotan sejak hampir satu dekade lalu. Mulai dari nol dan modal yang kecil ia perlahan membesarkan usahanya.

Lampung Post menghampiri gerainya di Jalan Soekarno Hatta , Natar Lampung Selatan pada pagi hari. Di gerai berdinding batu bata tanpa aci terpajang berbagai bentuk kerajinan rotan yang bernilai seni tinggi.

Anisa yang merupakan bibi dari Fahrozi mengatakan aneka barang yang dijual digerai tanpa nama itu diantaranya satu set  meja makan, satu set meja tamu  , satu unit kursi santai, tudung nasi, ayunan bayi, rak sepatu, bak penampung cucian baju dan lainnya.

"Biasanya, barang tersebut dijual eceran bahkan pesanan. Bisa diantar sesuai keinginan konsumen. Banyak pelanggan yang memesan digerainya,  seperti dipan atau kursi kolam rengan baik dari instansi, hotel maupun pribadi,"kata dia.



Proses pembuatannya dilakukan dibelakang gerai. Ia menjelaskan harga tiap produk berbeda tergantung dengan ukuran dan tingkatbkerumitan. Seperti satu set meja makan Rp2,6 juta , satu set meja tamu sedang Rp1,5 juta , kursi panjang Rp1,350.000 , tudung saji Rp100 ribu , dan ayunan Rp1,8 juta.

Dulu, Fahrozi sering mengikuti pameran sampai Jakarta, dagangannya pun laris diminati. Namun berbeda dengan saat ini, perekonomian yang tdiak menentu membuatnya untuk beralih profesi  menjadi supir travel di bandara Radin Inten II.

Pemesan berasal dari berbagai daerah seperti Kalianda, bahkan Martapura Sumatera Selatan. Tahun lalu, ia mengaku bisa menjual banyak barang atau dua mobil pick up untuk dikirim ke Martapura.
Namun sekarang satu pun bisa jadi tak laku terjual.

Diakuinya, hambatan terbesar karena permodalan sebab mendatangkan bahan baku rotan tak mudah. Ia harus mengambil bahan dari Kalimantan dan Palembang. Sedangkan proses pengerjaan membutuhkan sumber daya manusia yang ahli dan perlu dibayar.

"Setiap pekerjaan berbeda orang, seperti yang nganyam rotan beda, yang plitur beda, yang amplas juga beda orang,"kata dia.

Ia berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan usaha kreatif Lampung. Sebab, tak ada lagi upaya untuk mencari nafkah kalau tidak memanfaatkan keahlian menganyam rotan.

"Modalnya macet  jadi cuma majang sedikit saja disini. Sudahblama juga tidak memproduksi barang,"paparnya.

0 komentar:

Post a Comment